KINERJA GURU DALAM MELAKSANAKAN PENGAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 PUGAAN KABUPATEN TABALONG
Keywords:
Kinerja Guru, Pengajaran, Motivasi KerjaAbstract
Latar belakang penelitian ini berfokus pada kurangnya disiplin guru dalam kehadiran di sekolah maupun saat melaksanakan proses pembelajaran, serta ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan tanggung jawab sebagai pendidik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja guru dalam melaksanakan pengajaran di SMK Negeri 1 Pugaan, Kabupaten Tabalong, serta faktor-faktor yang memengaruhinya.
Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan berjumlah 12 orang, ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil menunjukkan bahwa kinerja guru dalam melaksanakan pengajaran tergolong cukup baik. Pertama, kemampuan merancang pembelajaran sudah sesuai dengan kebutuhan siswa dan pelatihan yang diikuti. Kedua, penguasaan materi cukup baik meskipun beberapa guru tidak berlatar belakang pendidikan sesuai bidang ajar. Ketiga, kemampuan evaluasi tergolong cukup baik, terlihat dari pelaksanaan evaluasi setelah ulangan. Keempat, jam mengajar tergolong cukup, bahkan terdapat kelebihan jam. Kelima, jumlah kegiatan pembelajaran cukup aktif. Keenam, evaluasi dilaksanakan secara terjadwal. Ketujuh, pelaksanaan pembelajaran telah sesuai kurikulum. Kedelapan, penilaian dilakukan secara objektif menggunakan rubrik yang jelas. Kesembilan, kehadiran tepat waktu masih perlu ditingkatkan karena beberapa guru masih terlambat. Kesepuluh, komitmen terhadap tugas cukup baik. Kesebelas, kepedulian terhadap siswa cukup terlihat melalui peran aktif wali kelas dan tim disiplin. Keduabelas, kepatuhan terhadap aturan tergolong cukup karena adanya kesadaran tanggung jawab dan konsekuensi dari pelanggaran.
Faktor pendukung kinerja guru antara lain motivasi kerja, sarana prasarana, lingkungan kerja yang nyaman, dan pelatihan. Sementara itu, hambatan yang dihadapi meliputi kekurangan tenaga pengajar, ketidaksesuaian latar belakang pendidikan, keterbatasan sarana, ketidakpatuhan terhadap aturan, solidaritas yang kurang, serta kondisi fisik.





