ANALISIS PERAN TENAGA HONORER TERHADAP EFEKTIVITAS TUGAS APARATUR SIPIL NEGARA (STUDI KASUS DINAS KOMUNIKASI, INFORMATIKA, STATISTIK DAN PERSANDIAN KABUPATEN BALANGAN)
Keywords:
Peran, Tenaga Honorer, EfektivitasAbstract
Seluruh lembaga pemerintah, mulai dari level nasional hingga regional, membutuhkan tenaga honorer sebagai pendukung dalam melaksanakan tugas Aparatur Sipil Negara guna mewujudkan pelayanan publik publik yang profesional, transparan, berkeadilan dan seimbang dalam pelaksanaan tugas kenegaraan dan pemerintahan, serta proses pembangunan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran tenaga honorer dalam pelaksanaan tugas ASN. Hambatan yang dihadapi meliputi tenaga kerja ASN yang terbatas menjadikan dibukanya penerimaan tenaga honorer, proses penerimaan tenaga honorer dilakukan tanpa mengikuti prosedur dan persyaratan yang terdefinisi dengan jelas, serta tidak adanya pelatihan bagi tenaga honorer. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tenaga honorer di Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Balangan belum efektif. Perencanaan sumber daya manusia cukup efektif karena disusun berdasarkan analisis kebutuhan tenaga kerja, namun strategi perencanaannya belum efektif karena tenaga honorer belum bekerja dengan baik. Perekrutan dan seleksi tenaga honorer belum efektif, lebih mengutamakan surat lamaran dan ketersedian anggaran, sementara tenaga honorer administrasi tidak melalui seleksi formal. Pelatihan dan pengembangan SDM belum efektif karena pelatihan tidak memadai dan pengembangan kompetensi masih informal. Pengelolaan kinerja dan evaluasi kinerja cukup efektif, dengan penilaian langsung oleh atasan dan evaluasi formal melalui format mandiri. Kompensasi sudah efektif berupa gaji dan fasilitas, namun pengelolaannya belum efektif karena perbedaan persepsi tentang kecukupan kompensasi. Faktor pendukung mencakup disiplin, komunikasi yang baik, fasilitas kerja, bimbingan teknis dari ASN, dan lingkungan kerja yang mendukung. Faktor penghambat meliputi kurangnya pelatihan, rendahnya kompensasi, dan keterbatasan ruang kerja.





